Sabtu, 23 Juli 2016

Diselo Gelak Becampu Tangih



         Melanjutkan postingan ku beberapa hari yang lalu. Hari ini aku telah menyelesaikan judul proposal yang akan aku ajukan pada tim sleksi dikampus ku. Hampir saja tergoyah semangat ku karena merasa waktu tiga hari ini tidak akan cukup untuk aku menyelesaikan 3 judul proposal itu. Namun ternyata tak sia-sia usaha ku, gemelut hati justru mampu menyemangati ku. Dan dengan semangat ku ini membuat aku meresa menjadi mahasiswa yang sebenarnya. Bangun pagi, menunggu angkutan umum dari kos ke persimpangan, dari persimpangan ke persimpangan kampus, jalan kaki dari persimpangan kampus ke kampus, belum lagi hari pertama panas terik, hari kedua hujan lebat dan hari ketiga.. Nah dihari ketika ini yaitu hari ini ada sedikit kejadian lucu untuk aku ceritakan. Bayangkan saja sudah tiga tahun lebih aku berkuliah di kampus itu, akupun sudah sering keluar masuk perpustakaan dan ruang baca selama masa perkuliahan ku, namun baru kali ini sepatu kuliah kesayangan ku harus berakhir dengan tragis, karena hari ini sepatu kuliah yang menjadi salah satu favorit ku itu harus tertukar dengan sepatu orang lain. Model dan warnannya sama hanya nomornya saja yang berbeda. Memang ini sepertinya kekhilafan ku. Awalnya aku mendatangi perpustakaan untuk mencari referensi proposal ku tak puas hanya mencari reverensi di perpustakaan akupun beranjak menuju ruang baca yang jaraknya tak jauh dari perpustakaan. Karena jaraknya yang tidak terlalu jauh membuat aku malas bolak balik memakai sepatu, aku lebih memilih mengambil sepatu ku di rak sepatu perpustakaan lalu menjinjingnya ke ruang baca. Spontan saja kutarik sepatu ku dari rak didepan perpus dan berlari menuju ruang baca tanpa benar-benar aku perhatikan dulu apakah benar itu sepatu ku atau tidak. Dan ternyata sepatu yang aku tarik tadi itu bukan sepatu ku, walaupun bentuk dan warnannya sama namun nomornya lebih besar 3 nomor dari nomor kaki ku yg 36. Kebayang donk seberapa besar selisihnya. Aku rasa sih seperti itu kronologinya tapi tak tau pula mana tau mungkin sepatu ku tertukar diruang baca oleh orang lain wallahhualam.
Karena aku sudah berencana akan langsung kepasar dari kampus untuk membeli baju kurung putih yang akan ku pakai PL pada hari senin, mau tidak mau aku harus menggunakan sepatu yang tertukar itu mengelilingi pasar sore ini. Awalnya aku mengira tidak akan ada efek apa-apa jika aku memaksakan kaki ku menggunakan sepatu itu mengelilingi pasar karena sepatu tersebut hanya kebesaran dan masih bisa dipakai. Tapi ternyata tak lama aku mengelilingi pasar ada dua bagian dan lagi-lagi dikaki kiri ku yang mulai terasa perih, saat aku mengeceknya ternya kaki ku lecet tergores oleh bagian sepatu yang memang kebesaran dikaki ku. Perih sakit membuat aku harus sedikit pincang saat berjalan. Aku mencari warung yang menjual handsaplas namun tetap saja handsaplas itu tak berpengaruh apa-apa pada ku, jalan ku masih pincang, puas ku berfikir karena aku berada ditengah-tengah pasar, akupun membeli sandal jepit yang memang dijual tak jauh dari tempat ku berdiri saat itu.
Dalam hidup ku masalah memang silih berganti tak jarang diiringi dengan kesedihan yang berarti namun ada saja yang menghibur ku. Saat dimana aku tengah sedih karena harus berjuang sendiri, memulai menulis sendiri, bolak balik kampus sendiri, mempersiapkan PL sendiri tanpa ada yang ingin tau dan menyemangati tiba-tiba kejadian lucu yang sedikit menghibur ku terjadi hari ini. Lucu saja rasanya sakin aku dibuat semangat oleh cemeehannya hingga tertukar sepatu ku diperpustaakaan dan mengharuskan aku menggunakan sandal jepit mengelilingi pasar sore ini dengan atasan kemeja, batik dan bawaan ransel, tanpa memperdulikan bagaimana pandangan orang-orang yang melihat tampilan ku hari ini tetap tidak menjatuhkan semangat ku.
Hey, lihatlah aku masih tetap bersemangat sejauh ini, meski aku tak bisa menutupi sendu dan mata berkaca-kaca ku. Beberapa kali aku tiba-tiba terdiam, tersenyum sendu dengan pilu dihati ku saat aku merasa yang aku lalui mulai terasa berat dan semakin berat dengan masalah yang aku hadapi. Air mata itu, sedih, bahagia, terharu adalah rasa yang tak dapat aku sembunyikan. Aku tersenyum sendu menatap hasil karya ku. Sedikit terbayang difikiran ku susahnya saat dirinya melewati masa yang sama seperti ini dulu namun aku tak beranjak dan tak berhenti menguatkannya ketika itu, tapi alangkah pilunya aku tak mendapatkan balasan yang serupa itu. Aku tak marah atas perlakuannya kali ini, apa lagi menyimpan dendam yang tak dapat ku kendali. Hanya saja aku sedih meratapi diriku sendiri.
Aku tak menyesal pernah terlalu baik pada seseorang, sekalipun ada yang mengatakan pada ku menjadi orang baik berarti siap untuk dikecewakan, karena memang salah satu hal yang menyedihkan ketika kamu terlalu baik pada seseorang adalah dia akan berfikir kamu begitu bodoh untuk dimanfaatkan namun bagi ku tak ada yang membatasi untuk aku berbuat baik selagi ketulusan bersama ku “tetaplah menjadi orang baik, suatu saat jika beruntung kamu akan bertemu dengan orang baik atau ditemukn oleh orang baik” tak ada satu perkarapun yang luput dari pandangannya kebaikan sebesar biji zarahpun akan mendapatkan balasan pada waktunya begitupun dengan kejahatan. Karena balasan itu nyata hanya perlu menunggu waktunya saja. Untuk proposal skripsi ku semoga ada satu yang di acc. Amin.  

Kamis, 21 Juli 2016

Penyemangat Diri




Hari ini pagi-pagi sekali aku datang kekampus menemui dosen pembimbing akademik ku untuk bertanya kapan kiranya aku bisa memulai menulis proposal skripsi ku dan ternyata saat ini aku sudah bisa memulai menulis proposal skripsi ku. Untuk langkah awal pembimbing akademik ku meminta agar aku mengajukan 3 judul yang terdiri dari cover, BAB I, dan daftar pustaka. Tapi kendalanya adalah aku hanya mempunyai waktu 3 hari termasuk hari ini untuk menyelesaikan 3 judul itu sebelum nantinya pada malam minggu aku akan kembali kekampung dan pada hari seninnya aku sudah harus mulai melaksanakan PL disalah satu SMA dikampung ku. Tapi alhamdulillahnya aku sedikit terbantu  karena pada semester lalu aku telah menyelesaikan 1 proposal pada mata kuliah bimbingan skripsi ku yang bisa ikut aku ajukan kali ini sehingga hanya tersisa 2 proposal skripsi yang harus aku selesaikan dalam rentan waktu 3 hari kedepan. Sebenarnya proposal skripsi ini bukan merupakan sebuah keharusan untuk kami kerjakan pada semester ini. Normalnya mahasiswa S1 dikampus ku menyelesaikan studinya dalam rentan waktu 4 tahun sehingga kami diberi kesempatan untuk benar-benar fokus pada PL disemester ini dan pada semester besok barulah kami diharuskan untuk memulai menulis proposal skripsi. Hanya saja kali ini pihak kampus telah memberi sedikit kemudahan dengan memberikan izin bagi mahasiswa yang ingin mengajukan judul proposal skripsi lebih awal. Dan aku memilih untuk memulai proposal skripsi ku pada semester ini.
Lihatlah kekasihku, betapa bersemangatnya aku kali ini, bahkan tak pernah aku sesemangat ini. Karena motor ku telah aku kirim kekampung sebelum libur semester lalu, membuat aku harus menaiki angkutan umum ketika ingin bepergian. Dari kos kekampus aku harus menaiki angkutan umum dua kali  dan untuk angkutan umum pertama memang sulit sekali dicari, aku harus menunggu lama didepan kos ku baru ada yang berhenti. Ketika aku sampai dipersimpangan kampus untuk menghemat biaya aku memilih turun dari angkutan umum dibelakang kampus yaitu dipersimpangan kampus tetangga yang mengharuskan aku berjalan kaki lebih jauh dibawah teriknya matahari menuju kampus ku begitupun saat akan pulang aku juga harus berjalan kaki kepersimpangan kampus tetangga untuk menunggu angkutan umum disana. Heels yang tingginya sekian cm dikaki ku dan cukup membuat aku kualahan saat berjalan sudah tak aku hiraukan lagi saat aku harus berjalan dari persimpangan kekampus ataupun sebaliknya, aku melihat wajah mu bahkan hampir disetiap langkah ku, aku mendengar suara mu bahkan hampir disepanjang jalan ku. Aku mengayunkan langkah demi langkah ku dengan senyuman terindah ku. Tanpa terasa jarak persimpangan yang jauh itu terlewati oleh ku.
Kamu tau betapa bersemangatnya aku kali ini meskipun saat teman-teman kuliah ku tau jika aku sudah mulai menulis mereka langsung membuli tekad ku ini. Semua mencemeeh ku berkata jika aku terlalu berambisi, berkata “cie indah yang ingin wisuda 3,8 tahun”. Namun semua itu tak aku perdulikan. Karena sudah dari awal perkuliahan ku aku memperjuangkan semangat ku bahkan ketika kamu mencoba menjatuhkan asa ku saat ini aku tetap mempertahankan semangat ku ini. Orang-orang tidak pernah tau ada banyak hal yang mendorong aku senekat ini. Niat ku untuk menyelesaikan kuliah lebih awal sebelum waktu yang terjadwal adalah alasan ku agar tak menambah uang semester yang nantinya akan membebankan orangtua ku, niat ku untuk menyelesaikan kuliah lebih awal sebelum idul fitri tahun depan adalah karena mimpi yang aku terima setahun yang lalu dari alm ibu ku atas diri mu. Selain daripada itu pinta mu agar aku menyelesaikan dengan segera kuliah ku adalah satu hal yang sangat ingin aku wujudkan. Walaupun pada akhirnya mungkin saja aku tak bisa mengejar wisuda lebih awal sebelum jadwalnya, namun setidaknya aku telah berusaha.
Masihkah kamu mengingat percakapan kita yang satu ini? Percakapan yang selalu membuat aku meneteskan air mata ku tiap kali aku mencoba mengulang membacanya.
 

Saat itu adalah tahun pertama aku berkuliah dan tahun pertama  juga kamu berkuliah namun pada jenjang pendidikan S2 mu. Ditengah kekhilafan mu ketika itu, kamu menghiba kepada ku memohon agar aku mengerti situasi mu bahkan kamu mengancam akan menyudahi kuliah mu karena reaksi dari kekecewaan dan kekesalan ku ketika itu sempat menyulitkan perasaan dan fikiran mu. Kamu coba membanding-bandingkan kekacauan yang tengah kamu alami didalam keluarga mu dengan reaksi ku atas kekhilafan mu ketika itu yang pada akhirnya membuat aku tak sampai hati terus menyudutkan mu, aku mencoba meredamkan kekesalan ku menepiskan rasa kecewa ku karena saat itu kamu kembali mengulang kesalahan yang serupa dan kembali membuat sedih hati ku. Tapi aku tak menyangka ketika keadaan itu dibalikkan meskipun aku tak melakukkan kekhilafan yang sama seperti mu ketika itu ternyata diri mu tak mampu untuk mengerti situasi ku. Serendah apakah aku dimata mu sehingga engan engkau menoleh kepada ku, kesalahan apakah yang telah aku lakukkan sehingga terkunci hati mu untuk mengerti situasi ku. Jikalau kamu ingin tau rasanya menjadi aku tempatkanlah posisi ku saat ini seperti posisi mu ketika itu. Ini sungguh sangat menyulitkan aku.
Hari ini dikampus aku juga mulai mengurus despensasi (pembayaran setengah) uang semester ku yang akan dilanjutkan pada esok hari. Tadinya uang semester ku itu memang telah diberikan pada ku awal-awal hari dari hari ini hanya saja telah berkurang jumlahnya karena terpakai oleh ku untuk membayar hutang pada salah seorang teman ku. Belum lagi uang kontrakan kos yang saat ini juga menanti didepan mata ku. Lagi-lagi aku tak menyangka sosok yang aku bantu saat sulitnya justru mengabaikan aku ketika sulit ku.
Benar-benar tak ada kata yang dapat mengunggkapkan bagaimana rasanya menjadi aku saat ini. Sosok yang selama ini baik, lembut, sopan, santun, perduli, dan selalu menemani hari-hari ku ternyata telah larut dalam dunianya sendiri yang sangat menyiksa perasaan ku disini. Tanpa perasaan ia mengabaikan dari setiap penghibaan ku. Sms dan telepon adalah salah satu yang sering membuat aku meneteskan air mata didalam diamku. Aku mencoba mengabarinya setiap kegiatan penting ku berharap restu dari setiap pelangkahan ku namun tak satupun respon yang ia berikan pada ku. Mungkin memang sudah tak ada lagi belas kasihan itu untuk ku, hati nuraninya seolah mati dan terkunci untuk mengerti situasi ku. Dia bahkan terlihat bukan seperti sosok yang pernah aku kenal dulu. Kesal? Memang terkadang terasa kesal oleh ku tapi aku tak pernah menyesal telah mengenalnya, tak ada dendam yang tersimpan oleh ku dan caranya menjauhi ku dengan mengantungkan hubungan ini dengan meminta aku menyelesaikan kuliah ku terlebih dahulu tidak membuat aku merasa ia telah merendahkan aku, hanya saja aku melihat ia tidak bisa memandang ku karena posisi ku yang masih jauh dibawahnya saat ini. Mungkin dulu itu karena kami berjuang bersama sehingga ia mengerti rasanya menjadi aku. Namun aku mencoba untuk tetap berbaik sangka kepadanya. Mungkin ini pulalah caranya menyemangati ku dan memberi ujian untuk melihat seberapa kuatnya aku. Mungkin caranya berbeda dari orang lain tapi tujuannya tetaplah sama dan jika iya benar begitu adalah kesabaran yang menemani hari-hari ku saat ini dan itu yang bisa ia lihat nyata dari aku dalam situasi ini. Sungguh bagaimanapun kamu memposisikan dirimu saat ini pada ku, diri mu tetap menjadi salah satu alasan dari setiap semangat ku karena tak sedetikpun waktu yang aku lalui tanpa mencintai mu, itulah mengapa terkadang aku terlihat egois mencoba mencuri sedikit waktu mu, mengirimi mu pesan dan menceritakan rutinitas ku meskipun tanpa respon ataupun penguatan apa-apa dari mu.

Selasa, 19 Juli 2016

Hanya Karena Marah Pada Seseorang Bukan Berarti Harus Berhenti Mencintainya


Pada akhirnya setiap orang akan bertemu dengan jodoh yang telah tuhan takdirkan untuknya, yang bahkan telah tuhan takdirkan sejak roh ditiupkan kedalam kandungan ibunya. Jodoh yang tiada seorangpun mengetahui bagaimana wujudnya. Yang akan tuhan pertemukan pada mu ntah saat kamu sedang berada dipuncak kejayaan atau sedang terpuruk dalam ketiadaan. Jodoh yang pada akhirnya akan bisa menerima segala kekurangan mu, jodoh yang akan mengabdikan dirinya untuk menjadi pelindung mu, pelengkap dari kekurangan mu, yang akan memuliakan mu dan menghormati mu baik kamu yang akan bersanding sebagai imamnya atau kamu yang akan bersanding sebagai makmumnya. Maka ada satu perkara yang harusnya kamu coba terima, siapapun sosok yang saat ini ada bersama mu, seberapa lamapun kamu dan dia menjalani sebuah hubungan jika ia bukan jodoh mu tuhan selalu punya cara untuk menjauhkannya dari mu meskipun hubungan itu telah terjalin bertahun-tahun lamanya, disini mungkin tuhan akan lebih tega pada mu karena sesungguhnya tuhan telah menakdirkan orang lain yang juga terbaik untuk mu. Begitupun ketika kamu telah menjalani hubungan sekian lama namun banyak pertengkaran yang kamu dan dia lewati dan banyak ujian yang kamu dan dia jalani tapi jika tuhan menakdirkan ia sebagai jodoh mu tuhan selalu punya cara untuk menyatukan kamu dan dia karena sesuatu yang telah tuhan takdirkan menjadi milik mu tetap akan menjadi milik mu.
Itu adalah kata-kata klise yang sering aku dengar dari setiap orang yang berusaha menghilangkan kesedihan ku, orang-orang yang berusaha menghibur ku. Kadang-kadang memang sempat membuat aku berfikir panjang akan kesabaran ku menyikapi gantungnya hubungan ini. Tapi kembali aku berfikir akankah ada yang mau menerima ku dengan segala kekurangan ku jikalau saat ini saja aku tak pernah berani membuka hati lagi pada laki-laki manapun setelah dia, aku takut jika harus merasakan kesedihan yang lebih dari ini ataupun mereka yang akan kecewa pada ku nanti. Seperti postingan ku sebelumnya mungkin menua sendiri adalah sebuah pilihan yang baik jika suatu hari nanti hubungan ini memang harus terus gantung seperti ini. Meskipun benar tuhan telah menakdirkan jodoh untuk kita tapi kita tetap diberi kesempatan untuk memilih siapa jodoh kita. Bukankah jika memang dua insan saling menginginkan maka nantinya mereka tetap akan berusaha untuk bersatu pada sebuah ikatan pernikahan.

Jika suatu hari kekasih ku itu harus mengingkari semua janji-janjinya untuk menunggu ku maka lambat laun aku tetap harus menerima bahwa mungkin aku bukan jodohnya tapi aku tetap masih bisa memilih jodoh ku dan aku tetap memilih dia! Menunggunya! Itulah prinsip yang terpatri dihati ku sudah sejak 5 bulan dari hubungan ini berjalan diantara kami, sejak dimana aku mempercayai segalanya kepadanya termasuk mempercayai segala rasa yang telah tuhan titipkan kepada kami lima tahun ini. Aku tak pernah bermaksut menguncinya dengan ikatan yang aku muliakan ini, justri disini akulah yang terkunci oleh ketulusan ku sendiri. Astagfirullahalazim, ampunilah aku tuhan yang mungkin memutuskan sesuatu melampaui keputusanmu. Sebegitunya hati ini dibuat sakit olehnya hingga bermacam-macam ketakutan yang muncul didalam fikiran ku tapi sayangnya bagaimanapun aku memposisikan diri ku saat ini ia tetap tidak akan mengerti jikalau segala hal yang berlebih-lebihan dari aku saat ini adalah karena kecintaan ku kepadanya atas kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi ditengah diskomunikasi ini. Dan pada kenyataannya memang tidak ada seorangpun yang dapat menerima gantungnya sebuah hubungan seperti ini, keadaan dimana kadang-kadang seseorang dianggap ada kadang-kadang juga tidak, keadaan dimana seseorang di pastikan sesuatu untuk masa depan hubungannya namun tak bisa menjalani ikatan saat ini. Tapi aku, dengan iklasnya aku harus berlapang dada menerima setiap keputusan yang telah ia pastikan karena tak ada cara lain untuk mempertahankan hubungan ini selain dari pada mengalah untuk membiarkannya mengantungkan hubungan ini, aku hanya berharap suatu hari ia bisa menyadari ketulusan ku ini dan menepati janjinya. 
Dulu sekali saat dimana hati ini kembali disakiti oleh laki-laki sebelum dia aku sempat down dan benar-benar terpuruk teringat oleh ku saat itu aku meminta kepada tuhan jika suatu hari hati ku harus kembali jatuh pada sebuah rasa yang namanya cinta, aku memohon agar tuhan menjatuhkan hati ku pada laki-laki yang benar-benar menyayangi dan mencintai ku sehingga kecil kemungkinan ia akan menyakiti hati ku seperti ketika itu. aku memohon pada tuhan agar menjatuhkan hati ku pada laki-laki yang benar-benar bisa membahagiakan ku. namun ternyata yang terjadi saat ini hampir sama, aku seperti mengulang luka yang serupa bahkan rasanya lebih sakit dari yang sebelumnya. Aku tak percaya dan nyaris tak menyangka jika sosok yang selama ini begitu dekat dengan ku bisa sejauh ini dari ku, aku bahkan melihatnya sebagai sosok yang sangat tega dan tak memiliki belas kasihan atas kesedihan ku.
Hey laki-laki ku, kecintaan yang aku sendiri tak tau kenapa aku masih terus menyayangi dan mencintai mu meski kamu sudah sangat menyakiti hati ku sesakit sakitnya hati ku kali ini. Tidakkah kamu lihat betapa kuatnya aku bertahan dalam situasi ini? Aku yang masih terus berharap akan lembutnya hati mu seperti dulu dan berharap akan harmonisnya hubungan kita seperti dulu. Kamu tak pernah tau bagaimana aku dibelakang mu, mengapa aku segila ini kepada mu,  gemelut hati apa lagi yang aku hadapi selain gemelut hati ku atas hubungan ini dan kesedihan apa lagi yang aku rasakan selain kesedihan ku atas gantungnya hubungan ini. Masalah dirumah keadaan yang berantakan sungguh sudah sangat menyulitkan ku, ditenggah ketiadaan ku aku memaksakan diri mendatangi kota itu lagi yang tujuan ku bukan hanya untuk berobat tapi juga untuk meluruskan segala hal yang selama ini ditutupi dari ku yang menyebabkan kesulitan ku selama ini. Namun ditengah gemelut hati ku atas perkara keluarga ku, aku juga harus menghadapi gemelut hati ku atas gantungnya hubungan kita, aku tak tau harus merespon bagaimana segala keputusan mu untuk menggantungkan hubungan ini. Aku iklas untuk mengalah, meridokan setiap keputusan yang telah kamu pilih, tapi sejujurnya aku sangat merindukan sosok mu yang seperti dulu. Hari-hari ku kini semakin terasa sepi, hp ku tak lagi berbunyi, tak lagi ada yang mengingatkan makan ku, tak lagi ada yang menyapa selamat pagi, siang dan malam ku, tak lagi ada yang mencoba membangunkan ku ketika aku harus bangun pagi-pagi, dan tak lagi ada sosok yang mengingatkan aku agar aku tidak tidur terlalu malam, sosok yang dulu senantiasa menemani hari-hari ku kini telah memilih menjauh dengan keegoisan yang mungkin menenangkannya namun sangat menyiksa ku. Kebahagiaan yang selama ini aku rasakan sekejap semuanya hilang, Bagaikan petir yang menyambar disiang hari, ini sungguh begitu tiba-tiba untuk ku. Tak selesai pada dua gemelut itu, ada satu hal lagi yang lebih menyita fikiran ku yaitu kuliah ku. Aku yang saat ini berada pada semester akhir ku ternyata aku telah kehilangan fokus ku. Aku begitu menghawatirkan nasip PL dan skripsi ku. Benar tak lagi lurus fikiran ku bahkan serasa aku ingin berhenti saja disini. Mengapa tak ada yang benar-benar menyuport dan mendampingi ku saat ini? Orang tua hanya tau mengirimi ku belanja. Dan aku dibiarkan menghadapi segalanya sendirian. Ntah akan jadi apa aku ini dan ntah bagaimana nasib ku nanti? Jika saat ini saja tidak ada yang bisa melihat keberadaan ku. Terlalu banyak gemelut hati yang harus aku fikirkan sendiri dibelakang mu dan kamu tak pernah mengetahui itu dari ku.
Aku teringat, dulu tahun-tahun pertama dan kedua kuliah ku, setiap aku pulang kampung aku selalu mendapat pertanyaan dari salah seorang mamak ku mengenai dia. Mamak ku sering sekali bertanya “masihkah kamu dengannya Indah? Benar dia mau pada mu, coba Tanyakan betul dulu padanya, kita seperti inilah adanya, orang tua bagaimana, keluarga bagaimana, kita bukan orang berpunya!” Aku hanya menjawab dan meyakinkan semua orang yang ada di sana ketika itu “masih mak, insyaallah” dengan bangganya aku memastikan pada mereka bahwa cinta kita buta sehingga status sosial tidak dipersoalkan. Tapi pernyataan istilah cinta itu buta adalah sebuah pernyataan klise yang pada kenyataannya mungkin baru saat ini aku menyadari bahwa status sosial yang jauh dari berada, keluarga yang berantakan, hidup ku yang sendirian, dan dengan kuliah yang belum aku selesaikan ternyata membuat orang-orang tak mampu memandang ku, semena-mena dan tak menghargai ku yang lambat laun membuat orang-orang itu menjauhi ku termasuklah diantaranya adalah dia.
Mungkin ia dia belum merencanakan kapan kami akan mengarungi rumah tangga berdua tapi yang sedang berseteru saat ini adalah hati yang esoknya telah ia niati untuk membawanya mengarungi rumah tangga bersama, yang berarti dia telah memilih tulang rusuknya, dan apakah sampai hatinya menyakiti tulang rusuknya sendiri? Ini mungkin bukan perkara yang ingin dia bahas bersama ku karena menurutnya ia masih belum ingin terikat dengan siapa-siapa saat ini dan mungkin pula untuknya perkara ini bukan hal serius yang penting untuk diselesaikan karena tak membebani dan mempengaruhi hari-harinya namun justru sebenarnya untuk ku perkara ini menjadi hal yang serius dan penting untuk diselesaikan karena sudah sangat menyulitkan hari-hari ku. Tapi bolehkah aku bertanya dari lima tahun menjalani hubungan ini bersama, suka, duka, susah, senang dan aku melihat dia menikmati status yang berjalan diantara kami kenapa baru sekarang memutuskan untuk menjauhi ku dengan alasan bosan dan belum ingin terikat lalu memutuskan menggantungkan hubungan ini kepada ku, kenapa tidak dari dulu saja? Jika LDR mampu merubah rasa bukankah sudah sering sebelumnya LDR kenapa tak ketika itu saja?  Hei kekasih ku sejujurnya aku tak sekuat yang kamu lihat, kadang timbul juga jenuh ku saat kerinduan ku tak terbalas, saat diskomunikasi terus berlanjut, saat aku melihat kamu tak lagi mau berjuang bersama ku, saat aku melihat kamu sudah tak lagi menginginkan aku, tak mencintai ku, tak menyayangi ku, tak memperdulikan aku, dan saat aku melihat kamu bisa bahagia tertawa menghabiskan waktu hingga pagi dengan teman-teman mu namun tak mampu meluangkan waktu sekedar lima menit untuk mengabari ku atau sekali saja mengirimi ku pesan tak bisa sehari sekali mungkin tiga hari sekali atau lima hari sekali semua hal itu kerap menumbuhkan jenuh pada ku, yang terkadang membuat aku merasa ingin berhenti dan ikut menjauh dari mu. Tapi tiba-tiba aku bertanya pada diri ku sendiri, sejak kapan sikap mu seperti ini pada ku? Sudah dari delapan bulan yang lalu! Dan pribadi mu yang cuek tapi perduli itu sudah sejak kapan pula? Sudah dari dulu sekali! Lantas kenapa baru kali ini aku ingin berhenti, menyerah dan ingin ikut menjauh dari mu? Disanalah aku berfikir setiap orang punya kebosanannya sendiri tapi mendewasakan diri adalah cara terbaik untuk menyikapinya.
Tidak ada asap jika tidak ada api, pernyataan yang satu ini bukan klise menurut ku. Aku sadar sekali pasti ada penyebab kenapa dia tiba-tiba berubah, dingin, dan menjauh dengan berbagai alasan. Hanya saja untuk yang satu ini aku malas menerka-nerka sendiri. Itulah kenapa aku lebih menyudutkan kesedihan ku disini karena memang kesedihan ku memuncak oleh situasi ini. Hari itu 20 Maret yang lalu tepatnya hari Jumat pagi. Setelah dia menunda-nunda keberangkatannya, pada akhirnya dia tetap harus berangkat meninggalkan ku di kota ku. Sedih sekali rasanya aku, perkara besar itu ternyata menghantarkannya ke negeri itu. Aku memang sempat down sama seperti orang-orang yang dia kecewakan ketika itu, tapi aku berusaha menahan diri untuk tidak memojokinya. Menurut ku setiap orang melakukan kesalahan apapun bentuknya termasuk berbohong pasti punya alasannya masing-masing dan cukuplah masalah itu yang menyulitkannya jangan sampai reaksi ku yang sebenarnya kecewa, sedih dan down ini ikut menyulitkannya. Dengan iklas aku mengantarkannya ke bandara pagi-pagi itu. Sendiri dari kos aku mencoba menelepon taksi. Memberanikan diri menjemputnya ke kosnya pagi itu. Sesampai dibandara sebelum keberangkatannya aku sempat menyalaminya dan ia mengecup lembut kening ku, rasanya air mata ku larut tapi kedalam. Hingga ia beranjak meninggalkan ku aku masih menatap kearahnya. Aku melepaskannya saat itu dengan iklas seperti apa yang ia katakana pada ku ia ingin memperbaiki keadaannya, mencari pekerjaan sebelum nantinya mapan agar bisa menghalalkan aku karena ia mengatakan akan malu jika sudah berkeluarga tapi masih minta pada orang tua. Aku masih ingat perkataannya ini karena memang aku menscreen percakapan kami yang ini. Tapi 6 bulanan disana tiba-tiba hari itu 14 oktober 2015 magrib pintu kos ku diketuk oleh seseorang dan ketika ku buka SURPRAISSSS itu adalah dia kekasih yang aku fikir tidak akan kembali lagi. Alhamdulillah, ketakutan ku, kerinduan ku, terbalas dengan rasa syukur ku. Ia memutuskan untuk kembali dan tak mengunjungi kota itu lagi. Ia kembali dengan keadaan baik-baik saja dan sehat wal alfiat. Ada satu hal yang aku sadari ketika itu, dari kotanya sebenarnya ia bisa langsung landing ke Jambi tempat kakaknya tapi hari itu ia memilih landing di kota ku baru dari kota ku beranjak dengan bus menuju kota kakaknya dan yang pasti pilihannya itu hanya untuk menemui ku. Aku yang ketika itu sering kali berharap ia akan tiba-tiba pulang kekota ku lagi dan mengetuk pintu kos ku ternyata tuhan mengabulkannya. Hingga kepulangannya dari kota itu, aku masih melihat ia sebagai kekasih yang masih sama seperti awal aku mengenalnya. Dan selang beberapa hari ia sudah harus meninggalkan kota ku untuk menuju kota seberang tempat dimana ia akan menetap selanjutnya di kota kakaknya. Tapi keadaan sedikit bermasalah hari itu. Ia kekurangan ongkos untuk berangkat dan aku dengan kepulangannya ke kota ku yang tiba-tiba membuat aku tak menyiapkan uang lebih saat itu. Namun mengingat kakaknya sudah lama menunggu disana akupun menawarkan untuk ia menggunakan uang belanja ku dulu saja. Dan saat keberangkatanpun aku tak tau jika loket bus yang akan ia naiki begitu jauhnya dan memang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Tapi karena tak ada yang bisa mengantarkannya malam itu aku memberanikan diri mengantarkannya ke loket malam itu. Aku menyalaminya meletakkan punggung tangannya kekepala ku seperti biasa. Sampai pada keberangkatannya ia pesan pada ku untuk hati-hati pulang kekos dan meminta ku melewati jalan saat pergi tadi karena ia membawa ku kearah jalan yang lurus ketika itu agar aku mudah mengingatnya. Hingga saat mobil telah berangkatpun ia menelepon ku sebab aku sedikit terlambat mengabarinya jika aku telah sampai dikos saat itu karena aku sempat mengantri mengisi bensin dulu. Ternyata ia menghawatirkan aku takut-takut aku yang rabun ini tersesat. Dan ternyata malam itu adalah terakhir aku melihat dan merasakan langsung kebahagiaan yang sudah bertahun-tahun tercipta diantara kami. Karena pada saat ini kenyataan pahit harus aku alami.  Sepertinya ia mulai menikmati dunia barunya disana. Tapi aku bahagia karena saat ini ia sudah tak lagi sendiri sehingga tak lagi aku yang ia telepon saat merasa sepi ia sudah bisa bermain bersama teman-temannya disana, untuk urusan makan juga sudah ada yang menyiapkan disana yaitu kakaknya, begitupun untuk kebutuhan yang lainnya kakaknya sudah banyak membantu. Yang paling menyenagkan ku, kekasih ku itu kini sudah bekerja, ia mendidik bagian dari penerus bangsa ini. Ya, ia sudah mengajar disebuah SMP dikota kakaknya. Dia jadi punya kesibukan yang bermanfaat dan berguna yang pasti ia telah memiliki pekerjaan karena seperti yang ia pernah bilang pada ku sebelum ia mengunjungi kota itu (Batam) dulunya yaitu apapun pekerjaannya asalkan halal akan ia coba. Akupun selalu menasehatinya bahwa segala hal yang besar selalu dimulai dari hal yang kecil karena rezeki itu bisa muncul dari sudut yang tak disangka-sangka, maka teruslah berusaha dan berdoa.
Aku menyadari sekali bahwa sebenarnya yang sulit untuk aku terima saat ini adalah melupakan semua kenangan, bagaimana mungkin bisa. Selama ini aku terbiasa selalu bersamanya. Tiga tahun berkuliah di perantauan aku selalu ditemani olehnya. sehingga 3 tahun kuliah di sanapun aku masih belum bisa menghafal arah-arah jalan dikota itu. hal itu dikarenakan saat dia ada bersama ku selalu ia yang mendampingi ku sehingga saat ia tak ada di kota ku aku menjadi seseorang yang benar-benar tak tau apa-apa. Saat aku mencoba melangkah bepergian sendirian tetap saja sepertinya aku ingin kembali kebelakang ada saja kenangan yang terlihat oleh ku di sepancang perincian jalan. Terlalu banyak kenangan dan kebahagian yang telah dilalui berdua namun aku tak mengira jika yang ia ingat justru bukan kebahagiaan itu sehingga aku melihat dengan mudahnya ia melupakan ku. jika memang yang ia ingat dari ku justru adalah segala kesalahan ku maka bolehkah aku kembali bertanya : Pernahkah ia berbuat salah pada ku? pernah! Apa yang respon ku atas kesalahnnya bahkan setiap kali ia mengulangi kesalahan yang serupa? mengerti, memahami, menyelesaikan, memaafkan, dan kembali seperti biasa! Lalu mengapa kali ini saat ia merasa aku salah ia justru membalas hal yang berbeda? Entah apa yang telah menutup hati nuraninya, aku tak tau. Tapi pada intinya yang aku butuhkan saat ini adalah terbiasa. Terbiasa dengan segala hal yang akan terus membayangi hari-hari ku.
Ya allah ya tuhan ku yang maha membolak balikkan hati manusia. Dengan segala kerendahan hati aku memohon dan menghiba kepada mu mengharapkan belas kasih mu. Lembutkanlah yang keras itu, lunakkanlah yang kokoh itu, padamkanlah yang membara itu. Serta limpahkanlah kesabaran, keiklasan, dan kekuatan kepada ku dalam menyikapi gemelut hati ini. Aku percaya atas kuasamu. Maka angkatlah kesedihan ku. Gantikan kembali dengan kebahagiaan seperti dulu. Aku merindukannya. :’(

Minggu, 17 Juli 2016

Makna Sebuah Ketulusan

Sudah beberapa hari ini salah satu chanel TV menayangkan film-film berjendre komedi yang keren, lucu, dan mengandung edukasi terkhususnya untuk aku. Tapi edukasi yang aku maksud disini lebih kepada pesan dan pelajaran untuk kalian semua yang sedang bergelut dengan yang namanya perasaan tidak terkecuali untuk kalian yang sedang jatuh cinta, patah hati, dan digantung seperti aku. Ada beberapa film yang aku tonton tapi yang paling ngena untuk aku adalah Get Married 4 dan Youtubers. Mungkin film-film ini sudah tidak asing lagi ditelinga karena memang sangat buming dikalangan masyarakat. Yang sudah pernah nonton pasti tau donk apa pesan dan pelajaran yang dapat diambil dari film-film ini. Yang belum nonton aku saranin kalian segera cari CDnya terus nonton, ingat jangan yang bajakan. Untuk yang sudah pernah nonton tapi lupa filmnya atau gak sempat ngeh apa pesan dan pelajarannya coba deh nonton lagi dan jangan lupa dihayati pakai hati (ups jadi iklan deh). Nah yang akan aku posting kali ini akan aku mix dengan sebuah realita dilapangan.
Beberapa hari yang lalu kebetulan aku ada waktu luang untuk berkunjung kerumah salah seorang teman ku, perempuan dan seumuran dengan ku. Anggap saja namanya Mawar (bunga kesukaan ku, hehe). Kami sudah cukup lama berteman, dia cukup mengenal aku dan aku juga cukup mengenal dia. Sudah beberapa tahun ini Mawar menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang aku juga kenal dengan kekasihnya itu. Tidak mau ikut campur terlalu jauh, jadi aku rasa tak perlu aku menceritakan bagaimana detail hubungan mereka karena aku juga tidak mengetahuinya dan yang pada intinya ketika aku bertemu dengan Mawar beberapa hari yang lalu itu ia bercerita bahwa saat ini dirinya tengah bingung, bingung akan memilih siapa. “What?! Memilih siapa?” Ternyata setelah sekian tahun menjalin hubungan yang namanya manusia tetap ada saatnya tergoda juga. Aku sedikit terkejut tapi itu manusiawi, its oke. Yang satu berstatus kekasihnya dan yang satu gebetannya. Ini adalah realita yang sering terjadi pada hubungan yang biasanya sudah berjalan lama, bisa jadi mungkin karena sudah bosan. Hari itu aku hanya memberinya nasihat sederhana “jika urusan yang seperti ini kamu hanya bisa menanyakan pada hati mu, tapi ingat tidak semua orang baru itu lebih baik dari orang lama. Dan secara berlahan  penghianat dan penggoda akan mendapatkan karmanya. Dulu sekali aku pernah berada diposisi mu, jangan sampai kamu menyesal kemudian”.
Seseorang yang telah lama bersama mu tentu lebih mengenal mu, ia tau baik buruk mu,  ia tau apa hal yang kamu sukai atau tidak, dan yang pasti ia cukup tau segala hal tentang kamu, sehingga saat terjadi sesuatu pada mu ia tau apa yang harus ia lakukkan. Contohnya saat kamu berada diperantauan : Tiba-tiba kiriman habis, bensin habis, perut lapar sekalipun itu jam sembilan malam dan jarak kos yang berjauhan namun saat kamu memberi tau keadaan mu pada kekasih mu biasanya ia langsung mengantarkan makanan ke kos mu bukan justru menceramahi mu dan menyuruh mu membeli sendiri makanan itu atau mungkin saat kiriman habis, perut lapar dan kamu mencoba mengunjungi kekasih mu, sesampai di ditempatnya ia lantas menawarkan mu untuk makan di kosnya bukan atau justru meminta  mu untuk mengajaknya makan keluar? Saat motor mu tiba-tiba rusak dan kamu memberi tau keadaan mu pada kekasih mu biasanya ia akan menawarkan motornya untuk kamu pakai dulu bukan justru memarahi mu kenapa tidak hati-hati atau menyuruh mu ke bengkel saja. Saat kamu kehabisan belanja namun ada banyak hal yang harus dibayar atau sekedar untuk makan ketika kamu memberi tau keadaan mu pada kekasih mu jelas ia akan meminjamkan mu uang, sekalipun tak tau ada atau tidak yang tersisa untuknya setelah itu, sekalipun mungkin ia juga harus meminjam pada temannya dulu yang jelas bukan justru menyuruh kamu menelepon orang tua dan meminta dikirim kembali atau menyuruh mu meminjam pada teman mu saja. Begitupun saat kamu sakit kekasih yang lebih mengenal mu justru akan menawarkan mu obat yang memang sengaja telah ia stock dirumahnya agar segera meringankan rasa sakit mu sebelum nanti kamu akan benar-benar kedokter atau dibawa istirahat dan bukan cuma bertanya kok bisa sakit, dari mana dan sebagainya. Dan saat kamu minta diantarkan kesebuah tempat contohnya loket yang mungkin biasanya hanya dikunjungi beberapa kali oleh sebagian orang tentu tak banyak yang ingat jalannya, tapi kekasih mu biasanya akan memilih mengantarkan mu daripada menyuruh mu naik angkutan umum atau taksi, walaupun jalan untuk pulang ntah masih teringat olehnya atau tidak, dia melepaskan mu berangkat dengan harapan dimanapun kamu semoga kamu dan hubungan kalian baik-baik saja dan dia bisa bertemu dengan mu kembali. Mungkin memang sedikit berlebihan tapi inilah realita dan mix dari sebuah karya. Pada kenyatannya sebagai manusia, perempuan ataupun laki-laki kita tetap punya hati nurani. Ingat tuhan menciptakan manusia berbeda dengan makhluk lainnya, salah satu perbedaannya kita diberikan akal fikiran. Jadi, jika ada yang berada dalam posisi pada postingan kali ini ingat kata-kata ku. “Siapapun kekasih yang telah lama mendampingi mu ia pasti telah melewati pengorbanannya sendiri yang tidak harus kamu tau untuk membahagiakan mu, maka saat kamu berusaha mencari kebahagiaan mu bersama orang selain dari kekasihmu ingatlah kembali kebahagiaan yang pernah ada antara kamu dan kekasihmu”.